Jumat, 01 April 2016

Dan

Harusnya nggak akan pernah ada cinta yang lain, dan nggak akan ada hati yang ngerasa disakitin. Nggak akan ada banyak air mata yang jatuh buat nangisin sebuah kehilangan, kalau semua itu nggak diawali sama sebuah kesalahan. Dan nggak akan ada sebuah penyesalan kalau nggak akan pernah ngerasain sebuah kehilangan. Dan untuk apa semua dilakuin kalau akhirnya harus saling ngerasa kesakitan. Apa itu cinta yang akan bahagia buat kedepan nya ?  Atau itu luka yang tersembunyi diantara cinta itu ? Biar nanti Tuhan yang akan jawab hal ini.

Dan sebelum semua itu terjadi, keadaan selalu baik, selalu sama-sama dalam bahagia atau luka. Nggak ada hal sedikitpun yang kelewat sia-sia gitu aja. Dan nggak ada kata bosan atau jenuh buat waktu yang kemarin habis dan selalu diukir kembali dengan satu nafas.

Dan waktu mulai jahat buat kisah ini, semuanya itu perlahan mulai meredup dan kemudian hilang tanpa arah dan tujuan yang jelas kemana semua itu pergi. Waktu seolah berhenti bukan pada takdirnya, air mata mulai jatuh tanpa diminta untuk basahi pipi dan berakhir dengan goresan kecil tanpa obat penawar untuk menyembuhkan semua. Terungkup dalam tanah yang basah, yang entah kapan akan mengering lalu retak dan jauh dari belaian penyelamat, hari mulai terasa begitu pilu, lidah terasa kaku, melihat semuanya seperti debu yang tersisir angin dan kemudian membisu.

Aksara langit mulai memberikan jawaban, air mata lagi lagi turun dengan begitu deras dan enggan untuk berhenti sampai tubuh ini mulai merasa lelah dan kemudian mata mulai terlelap dalam keadaan tak sadarkan diri. Lautan mulai bosan, ombaknya mulai menerjang dan merobohkan karang karang dari waktu ke waktu, hingga tak tersisa jejaknya dalam pasir dipesisir. Semua terasa sepi dalam ruang kosong gelap dan sepi, entah mau dikemanakan langkah kaki ini pergi, cahaya yang selalu ada menuntun langkahnya perlahan lahan mulai meredupkan sinarnya, kaki ini terus melangkah mengikutinya yang mulai mengecil hingga cahaya itu tidak menapak kan sinarnya. Kaki ini mulai bergetar, dan mulai terasa pegal, urat besarnya mulai muncul dan membiru karna tak kuat lagi menopang tubuh yang akan rubuh, ingin melanjutkan langkahnya namun takut salah arah karna tidak ada petunnjuk untuk melangkah dan berbegas, hingga semuanya dibiarkan lumpuh dalam gelap kehilangan arahnya untuk kembali pulang dalam sesatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar