Rabu, 22 Januari 2020

Kembalinya aku, tanpa kamu-

Aku kembali...
Pada kota yang aku sebut kita


Aku kembali...
Menginjakan kaki pada setiap sudut yang semuanya terlihat begitu romantis
Ingin aku menangis pada waktu itu
Sejujurnya aku tidak begitu bahagia

Semua memori kembali hadir
Mengoyok pikiran, menggelitik sampai ke dasar hati
Ingin ku tertawa, terbahak-bahak, mungkin sampai tersendak
Ingin teriak, tapi aku pendam semuanya dalam-dalam
Ini sakit!

Ingatan ku waktu itu hanya kamu
Duduk bersila, becak, delman, agar-agar, kfc
Semua jadi satu dalam satu waktu

Maaf, telah menghianati kita
Bukan mau ku!

Tiada yang lebih indah dari kisah dan cerita kita
Jogja tetap kota kita, aku dan kamu

Udara

Udara, memisahkan dua kota
Antara jakarta dan jogja
Rindu menggelayut, sampai mengantuk
Meringkuk sampai membungkuk, jatuh tersulut
Hanya ada kenangan melukai pikiran
Menusuk sampai tembus kejantung
Mati....


Ada suara didalam tanah
Ada suara didalam pici
Ada suara dalam hati yang gaduh
Warna warna lampu gemerlap jalan
Warna warna seribu warna
Namun tak indah semua
Ya, Kita tau apa yang telah terjadi


Jakarta, kota tiada mati
semua orang beramai-ramai ingin kesini
Gemerlap lampu, hiburan malam, ramai bukan ?
Tapi, aku merasa sepi dalam keramaian
Pada sepertiga malam aku terbangun
Suara bising, sakit menusuk kedalam telinga
Penjajahan dimulai, dari jahatnya kota ini
Seolah-olah mereka mentertawakan ku
Karna pada kota yang sama, masih saja menantimu kembali 



Dan jogja,
dengan segenap kebudayaan
Serta keindahan, pantai dan gunung
Ada banyak yang aku tinggalkan pada kota ini
Jejak langkah, dan kembali lagi
Matahari bangkit dari mulutku
Menyabut barisan lanjut usia yang mulai menata
Duduk bersila, dengan mata yang berkaca
Bahwa kini kita telah terpisah