Harusnya aku sadar, sebelum semuanya terlalu dan terjatuh. Namanya juga terjatuh, sudah pasti sakit. Tanpa aku jelasin, kamu juga pasti tau; sakit.
Kini aku mulai tersesat, didalam langkah kaki ku sendiri. Aku bukan pemimpi, tapi aku terlalu terambisi untuk kamu. Aku terlalu yakin dengan hati ku sendiri, yang pada kenyataan itu semua hanya ekspetasi atau bahkan imajinasi.
Pikiranku terbayang kamu, meski aku tau kamu tak mungkin mencari ku. Berbeda dengan aku yang selalu mencari mu lewat ponselku, dari notification ku atau aku stalking segala media sosial mu.
Aku bukan terambisi untuk kamu jadi orang yang selalu buat aku semangat tiap aku liat kamu, bukan! Aku hanya ingin kamu selalu baik-baik saja, dan selalu tersenyum walau bukan aku yang jadi alasan kamu tersenyum. Tapi, tanpa kamu tau, aku selalu tersenyum melihat mu seperti itu. Tetap seperti itu, jangan diubah ya.
Aku seperti pecundang, yang selalu mengintai mu dari belakang dan jangan sampai ketahuan.
Bukan aku rela kamu diambil orang, karna aku sadar, aku masih berproses dan bejuang diam-diam untuk kamu.
Berjalanlah terus sayang, tak usah takut kamu sendirian dalam gelap malam.
Jika rasa takut mu itu muncul, tataplah ke arah langit, kamu akan liat berapa banyak do'aku yang selalu mengiri mu.
Jika kamu merasa lelah, beristirahatlah sejenak dan biarkan tubuhmu tersisir angin, disitulah aku titipkan semangatku untuk mu. Dan tak usah kamu paksakan jika lelah, aku takut kamu sakit.
Berjalanlah bebas kemanapun kamu mau, tak akan aku larang, apalagi memegangi kaki mu untuk pergi.
Sejauh apapun kamu pergi, kamu akan tetap kembali pulang ke sini, hati ku. Hati ku, yang suatu saat nanti menjadi rumah abadi dari segala rasamu tinggal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar