Jumat, 22 April 2016

Bait Demi Bait

Jari tangan ku mulai kaku, tubuh ku mulai  linu, mata ku mulai sayu, tapi otak ku masih saja memikirkan kamu. Kalau saja, kamu disampingku. Aku ingin bersandar dibahu mu, menyelesaikan setiap bait demi bait yang menjelajah dipikiran ku tentang kamu.

Kamu, adalah abjad yang ingin aku jadikan sebuah puisi dari huruf demi huruf yang aku imajinasikan, agar hidup dan indah karna ada kamu didalam setiap jarak spasinya.

Juga bukan kamu ...

Kisah ini hanya sebuah mimpi yang aku sendiri belum tau alur dari akhir ceritanya.
Kamu adalah energiku, semangat dari segala rasa lelahku, semoga kamu tidak pernah jenuh, untuk selalu ada didalam imajinasi ku.

kamu ...

Iyalah kamu, tetap disitu ...
Biarkan aku mentap mu dari jauh, beri aku sedikit waktu untuk memandang mu lebih lama lagi dari ini.
Jangan beranjak pergi, Aku masih rindu segala yang ada pada kamu. Tegap berdiri mu, atau bahkan postur tubuh mu.
Sayang, jangan biarkan aku tersadar dalam lamunan ku ini, karna aku hanya mampu melihat mu dalam bayang semu, imajinasi, ekspetasi yang aku buat sendiri.

kamu...
Lamunan, dalam bait demi bait ku...

Kamis, 21 April 2016

Hatiku; Rumah Pulang mu

Harusnya aku sadar, sebelum semuanya terlalu dan terjatuh. Namanya juga terjatuh, sudah pasti sakit. Tanpa aku jelasin, kamu juga pasti tau; sakit.

Kini aku mulai tersesat, didalam langkah kaki ku sendiri. Aku bukan pemimpi, tapi aku terlalu terambisi untuk kamu. Aku terlalu yakin dengan hati ku sendiri, yang pada kenyataan itu semua hanya ekspetasi atau bahkan imajinasi.
Pikiranku terbayang kamu, meski aku tau kamu tak mungkin mencari ku. Berbeda dengan aku yang selalu mencari mu lewat ponselku, dari notification ku atau aku stalking segala media sosial mu.
Aku bukan terambisi untuk kamu jadi orang yang selalu buat aku semangat tiap aku liat kamu, bukan! Aku hanya ingin kamu selalu baik-baik saja, dan selalu tersenyum walau bukan aku yang jadi alasan kamu tersenyum. Tapi, tanpa kamu tau,  aku selalu tersenyum melihat mu seperti itu. Tetap seperti itu, jangan diubah ya.

Aku seperti pecundang, yang selalu mengintai mu dari belakang dan jangan sampai ketahuan.
Bukan aku rela kamu diambil orang, karna aku sadar, aku masih berproses dan bejuang diam-diam untuk kamu.
Berjalanlah terus sayang, tak usah takut kamu sendirian dalam gelap malam.
Jika rasa takut mu itu muncul, tataplah ke arah langit, kamu akan liat berapa banyak do'aku yang selalu mengiri mu.
Jika kamu merasa lelah, beristirahatlah sejenak dan biarkan tubuhmu tersisir angin, disitulah aku titipkan semangatku untuk mu. Dan tak usah kamu paksakan jika lelah, aku takut kamu sakit.

Berjalanlah bebas kemanapun kamu mau,  tak akan aku larang, apalagi memegangi kaki mu untuk pergi.
Sejauh apapun kamu pergi, kamu akan tetap kembali pulang ke sini,  hati ku. Hati ku, yang suatu saat nanti menjadi rumah abadi dari segala rasamu tinggal.

Jumat, 01 April 2016

Dan

Harusnya nggak akan pernah ada cinta yang lain, dan nggak akan ada hati yang ngerasa disakitin. Nggak akan ada banyak air mata yang jatuh buat nangisin sebuah kehilangan, kalau semua itu nggak diawali sama sebuah kesalahan. Dan nggak akan ada sebuah penyesalan kalau nggak akan pernah ngerasain sebuah kehilangan. Dan untuk apa semua dilakuin kalau akhirnya harus saling ngerasa kesakitan. Apa itu cinta yang akan bahagia buat kedepan nya ?  Atau itu luka yang tersembunyi diantara cinta itu ? Biar nanti Tuhan yang akan jawab hal ini.

Dan sebelum semua itu terjadi, keadaan selalu baik, selalu sama-sama dalam bahagia atau luka. Nggak ada hal sedikitpun yang kelewat sia-sia gitu aja. Dan nggak ada kata bosan atau jenuh buat waktu yang kemarin habis dan selalu diukir kembali dengan satu nafas.

Dan waktu mulai jahat buat kisah ini, semuanya itu perlahan mulai meredup dan kemudian hilang tanpa arah dan tujuan yang jelas kemana semua itu pergi. Waktu seolah berhenti bukan pada takdirnya, air mata mulai jatuh tanpa diminta untuk basahi pipi dan berakhir dengan goresan kecil tanpa obat penawar untuk menyembuhkan semua. Terungkup dalam tanah yang basah, yang entah kapan akan mengering lalu retak dan jauh dari belaian penyelamat, hari mulai terasa begitu pilu, lidah terasa kaku, melihat semuanya seperti debu yang tersisir angin dan kemudian membisu.

Aksara langit mulai memberikan jawaban, air mata lagi lagi turun dengan begitu deras dan enggan untuk berhenti sampai tubuh ini mulai merasa lelah dan kemudian mata mulai terlelap dalam keadaan tak sadarkan diri. Lautan mulai bosan, ombaknya mulai menerjang dan merobohkan karang karang dari waktu ke waktu, hingga tak tersisa jejaknya dalam pasir dipesisir. Semua terasa sepi dalam ruang kosong gelap dan sepi, entah mau dikemanakan langkah kaki ini pergi, cahaya yang selalu ada menuntun langkahnya perlahan lahan mulai meredupkan sinarnya, kaki ini terus melangkah mengikutinya yang mulai mengecil hingga cahaya itu tidak menapak kan sinarnya. Kaki ini mulai bergetar, dan mulai terasa pegal, urat besarnya mulai muncul dan membiru karna tak kuat lagi menopang tubuh yang akan rubuh, ingin melanjutkan langkahnya namun takut salah arah karna tidak ada petunnjuk untuk melangkah dan berbegas, hingga semuanya dibiarkan lumpuh dalam gelap kehilangan arahnya untuk kembali pulang dalam sesatnya.