Minggu, 08 Juli 2012

Diperbatasan Senja















 
Hey, kamu yang disana...
Baru-baru ini aku dengar kamu telah berhasil menjadi sosok seorang ayah.
Ini tepat tahun ketiga kamu memutuskan untuk memilihnya.
Mau tak mau kini harus ku tanggung lagi rasa perihnya,
atas kehadiran bayi mungil diantara kehidupan kalian.
Harusnya itu aku, aku yang menjadi Ibu dari anak-anakmu,
tapi takdir berkata lain dan tak pernah mengijinkan kita dipersatukan.

Kamu yang selalu aku cinta...
tak perlu merasa berdosa dan apalagi bersalah,
percayalah, aku disini akan baik-baik saja,
tak rapuh dan hancur seperti yang kamu kira.
Mungkin hanya luka yang tersisa dan masih begitu terasa,
dan tak perlu cemas jika aku akan membencimu,
sesungguhnya hal itu tak akan pernah ada dalam benak ku.

Kamu yang selalu aku rindu...
Singgahlah sebentar diteras depan rumahku,
rumah yang dulu kau persiapkan untuk kita dimasa depan.
Tapi, sekarang rumah ini hanya tinggal sepenggal harapan.
Oh ya, jangan lupa, ajak anakmu, tapi jangan kamu ajak istrimu,
aku hanya ingin kita bertiga, berhayal jika aku adalah Ibu dari anakmu, Maaf.

Kamu yang selalu menjadi dambaan...
Sore ini aku ingin ajak kalian ketaman belakang,
nanti akan aku buatkan kamu secangkir kopi kepahitan,
dengan pemandangan taman langit berwarna jingga diperbatasan senja.
Dan jangan kamu tanyakan, mengapa saat ini aku masih menyendiri,
bukan aku tak bisa mencari penggantimu, mungkin ini maunya hatiku.
Yang masih mengharapkanmu,
yang selamanya mencintaimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar