Hari berlalu seperti biasanya, waktupun selalu berputar pada tiap detiknya tanpa memikirkan apapun
yang ada dibelakangnya. Entah itu ada yang tertinggal atau jatuh sekalipun,
yang mereka tau hanyalah berputar dari
tiap detki ke menit, dari tiap ke menit ke jam, dan dari tiap jam hingga hari
berganti.
Dan pada kenyataan nya waktu tidak pernah memikirkan apa yang
akan kita lakukan pada tiap detiknya, mereka enggan dan tidak akan mencampuri
apa yang bukan urusan nya. Mungkin
terlalu sia-sia untuk mencampuri apa yang bukan jadi urusn nya. Begitupun dengan
sebuah rindu yang selalu menggelayut ditiap dinding lapisan pertama hatiku. Sekali
lagi, mereka tidak mau tahu. Mungkin mereka
jenuh dengan apa yang selalu dia lakukan, selalu berputar dan berputar tanpa
henti.
Harusnya kita sama-sama sadar, sebuah pertemuan untuk
melepaskan segala rasa rindu yang hinggap itu tidak semudah ketika detik berganti
kedetik lain nya. Harusnya kita bisa belajar dari hal yang kecil namun tidak
kecil pelajaran yang bisa kita ambil, yaitu menghargai sebuah pertemuan sebelum
ada perpisahan diantara kita, kita bisa belajar bagaimana menghargai waktu,
waktu diamana kita bisa menghabiskan nya bersama-sama. Sampai nanti, waktu itu
pula yang memisahkan kita kembali sendiri.
Kamu selalu bilang rindu, tapi kali ini hatiku berhasil kamu
buat sedikit berwana membiru seperti luka lebam terbentur sesuatu. ya, sesuatu
pukulan yang menyakitkan, menyisakan luka dan meneteskan berapa tetesan air
mata yang seharusnya tidak pernah ada untuk memabasahi kedua pipiku. Tapi,
semua terlalu sulit untuk aku sembunyikan, aku pendam dan mengatakan ‘aku
baik-baik saja, kamu jangan khawatir’. Tanpa
kamu tau, dibalik semua itu ada sedikit luka yang menggores di lapisan pertama
hatiku, rinduku, dan kasih sayang ku untuk kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar