Kamis, 03 November 2022

Gelap

 Aku hilang arah.

Aku mati langkah.

Aku terjebak.

Aku tersudut mati pada sebuah ruang masa lampau.


Selama perjalan ini sudah jauh ku berlayar pergi.

Tapi, tetap saja tak ada tempat tertuju untuk kembali.

Terombang-ambing, terbentur tebing, jatuh terguling-guling.

Perih, luka robek mengnganga dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Sakit, tak tertahan. Semua luka ku jahit sendiri demi perlahan.


Perjalanan dan percarian ku tak berhenti.

Tetap, harus aku temukan tempat ku kembali.

Sendiri, gelap, sepi semua ku lewati.

Takut, akan mati sebelum sampai dengan apa yang ku cari.


Harus kemana lagi ?

Harus apalagi ?

Putus asa, pupus sudah.

Luka dan luka yang tiada pernah terobati.


Sampai, pada suatu malam menjelang pagi.

Tuhan kirimkan gambaran pada langitnya yang mulai menerang.

Cahaya kecil dalam kegelapan, semoga itu sebuah titik terang dan harapan.

Tapi, apa aku sanggup ?

Terlihat kecil dan sangat teramat jauh. 

Akan mustahil aku sampai pada titik itu.


Karna, apa yang selama ini aku cari dan aku tuju. Ialah kamu.

Yang pergi, dan hal yang selalu aku sesali















Rabu, 02 November 2022

Bab Yang Hilang

Kita seperti sebuah buku
Berulang-ulang kali ku baca hingga selesai, tapi tetap saja tak pernah ku mengerti
Huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, semua ku baca dengan hikmat
Tapi, tak pernah aku dibuatnya nikmat

Pikiran ku merasa dipermainkan.
Otak ku bekerja mati-matian, apa ada yang salah dengan buku yang sudah ku baca ?
Aku tak mendapatkan jawaban dari semua kegelisahan dan kegundahan yang menggerogoti dipikiran

Setelah semua berlalu
Tapi tetap saja aku dibuatnya keliru
Aku tersadar ketika semua yang ku baca hanya membuat ku mati kaku
Kamu tau itu apa ?
Bab terpenting dalam buku ku hilang satu
Entah kemana hilang dan pergi aku tidak tahu

Kamu tau ? Bab terpenting dalam buku ku ialah kamu
Seberapa banyak kali ku baca, seberapa banyak kali ku pahami, seberapa banyak kali ku coba mengerti dan ku nikmati
Tetap saja semua terasa jenuh dan percuma

Seperti kita
Seberapa banyak perjalan dan cerita hanyalah luka 
Jika Tuhan, tak pernah menakdirkan garis tangan Nya untuk kita bersama-sama mengukir kisah

Kita, seperti buku dengan bab terpenting yang hilang
Kita, seperti buku yang tidak akan pernah selesai dengan sempurna
Jika kita berdua tidak ada didalam kisah dan waktu yang sama

Rabu, 22 Januari 2020

Kembalinya aku, tanpa kamu-

Aku kembali...
Pada kota yang aku sebut kita


Aku kembali...
Menginjakan kaki pada setiap sudut yang semuanya terlihat begitu romantis
Ingin aku menangis pada waktu itu
Sejujurnya aku tidak begitu bahagia

Semua memori kembali hadir
Mengoyok pikiran, menggelitik sampai ke dasar hati
Ingin ku tertawa, terbahak-bahak, mungkin sampai tersendak
Ingin teriak, tapi aku pendam semuanya dalam-dalam
Ini sakit!

Ingatan ku waktu itu hanya kamu
Duduk bersila, becak, delman, agar-agar, kfc
Semua jadi satu dalam satu waktu

Maaf, telah menghianati kita
Bukan mau ku!

Tiada yang lebih indah dari kisah dan cerita kita
Jogja tetap kota kita, aku dan kamu

Udara

Udara, memisahkan dua kota
Antara jakarta dan jogja
Rindu menggelayut, sampai mengantuk
Meringkuk sampai membungkuk, jatuh tersulut
Hanya ada kenangan melukai pikiran
Menusuk sampai tembus kejantung
Mati....


Ada suara didalam tanah
Ada suara didalam pici
Ada suara dalam hati yang gaduh
Warna warna lampu gemerlap jalan
Warna warna seribu warna
Namun tak indah semua
Ya, Kita tau apa yang telah terjadi


Jakarta, kota tiada mati
semua orang beramai-ramai ingin kesini
Gemerlap lampu, hiburan malam, ramai bukan ?
Tapi, aku merasa sepi dalam keramaian
Pada sepertiga malam aku terbangun
Suara bising, sakit menusuk kedalam telinga
Penjajahan dimulai, dari jahatnya kota ini
Seolah-olah mereka mentertawakan ku
Karna pada kota yang sama, masih saja menantimu kembali 



Dan jogja,
dengan segenap kebudayaan
Serta keindahan, pantai dan gunung
Ada banyak yang aku tinggalkan pada kota ini
Jejak langkah, dan kembali lagi
Matahari bangkit dari mulutku
Menyabut barisan lanjut usia yang mulai menata
Duduk bersila, dengan mata yang berkaca
Bahwa kini kita telah terpisah

Jumat, 22 April 2016

Bait Demi Bait

Jari tangan ku mulai kaku, tubuh ku mulai  linu, mata ku mulai sayu, tapi otak ku masih saja memikirkan kamu. Kalau saja, kamu disampingku. Aku ingin bersandar dibahu mu, menyelesaikan setiap bait demi bait yang menjelajah dipikiran ku tentang kamu.

Kamu, adalah abjad yang ingin aku jadikan sebuah puisi dari huruf demi huruf yang aku imajinasikan, agar hidup dan indah karna ada kamu didalam setiap jarak spasinya.

Juga bukan kamu ...

Kisah ini hanya sebuah mimpi yang aku sendiri belum tau alur dari akhir ceritanya.
Kamu adalah energiku, semangat dari segala rasa lelahku, semoga kamu tidak pernah jenuh, untuk selalu ada didalam imajinasi ku.

kamu ...

Iyalah kamu, tetap disitu ...
Biarkan aku mentap mu dari jauh, beri aku sedikit waktu untuk memandang mu lebih lama lagi dari ini.
Jangan beranjak pergi, Aku masih rindu segala yang ada pada kamu. Tegap berdiri mu, atau bahkan postur tubuh mu.
Sayang, jangan biarkan aku tersadar dalam lamunan ku ini, karna aku hanya mampu melihat mu dalam bayang semu, imajinasi, ekspetasi yang aku buat sendiri.

kamu...
Lamunan, dalam bait demi bait ku...