Udara, memisahkan dua kota
Antara jakarta dan jogja
Rindu menggelayut, sampai mengantuk
Meringkuk sampai membungkuk, jatuh tersulut
Antara jakarta dan jogja
Rindu menggelayut, sampai mengantuk
Meringkuk sampai membungkuk, jatuh tersulut
Hanya ada kenangan melukai pikiran
Menusuk sampai tembus kejantung
Mati....
Menusuk sampai tembus kejantung
Mati....
Ada suara didalam tanah
Ada suara didalam pici
Ada suara dalam hati yang gaduh
Warna warna lampu gemerlap jalan
Warna warna seribu warna
Namun tak indah semua
Ya, Kita tau apa yang telah terjadi
Ada suara didalam pici
Ada suara dalam hati yang gaduh
Warna warna lampu gemerlap jalan
Warna warna seribu warna
Namun tak indah semua
Ya, Kita tau apa yang telah terjadi
Jakarta, kota tiada mati
semua orang beramai-ramai ingin kesini
Gemerlap lampu, hiburan malam, ramai bukan ?
Tapi, aku merasa sepi dalam keramaian
Pada sepertiga malam aku terbangun
Suara bising, sakit menusuk kedalam telinga
Penjajahan dimulai, dari jahatnya kota ini
Seolah-olah mereka mentertawakan ku
Karna pada kota yang sama, masih saja menantimu kembali
Pada sepertiga malam aku terbangun
Suara bising, sakit menusuk kedalam telinga
Penjajahan dimulai, dari jahatnya kota ini
Seolah-olah mereka mentertawakan ku
Karna pada kota yang sama, masih saja menantimu kembali
Dan jogja,
dengan segenap kebudayaan
Serta keindahan, pantai dan gunung
Ada banyak yang aku tinggalkan pada kota ini
Jejak langkah, dan kembali lagi
dengan segenap kebudayaan
Serta keindahan, pantai dan gunung
Ada banyak yang aku tinggalkan pada kota ini
Jejak langkah, dan kembali lagi
Matahari bangkit dari mulutku
Menyabut barisan lanjut usia yang mulai menata
Duduk bersila, dengan mata yang berkaca
Menyabut barisan lanjut usia yang mulai menata
Duduk bersila, dengan mata yang berkaca
Bahwa kini kita telah terpisah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar